Biofuel

Biofuel adalah bahan bakar yang dihasilkan dari bahan-bahan organik. Biofuel dapat dihasilkan secara langsung dari tanaman atau secara tidak langsung dari limbah industri, komersial, domestik atau pertanian. Ada tiga cara untuk pembuatan biofuel: pembakaran limbah organik kering (seperti buangan rumah tangga, limbah industri dan pertanian); fermentasi limbah basah (seperti kotoran hewan) tanpa oksigen untuk menghasilkan biogas (mengandung hingga 60 persen metana), atau fermentasi tebu atau jagung untuk menghasilkan alkohol dan ester; dan energi dari hutan (menghasilkan kayu dari tanaman yang cepat tumbuh sebagai bahan bakar).

Proses fermentasi menghasilkan dua tipe biofuel: alkohol dan ester. Bahan-nbahan ini secara teori dapat digunakan untuk menggantikan bahan bakar fosil tetapi karena terkadang diperlukan perubahan besar pada mesin, biofuel biasanya dicampur dengan bahan bakar fosil. Uni Eropa merencanakan 5,75 persen etanol yang dihasilkan dari gandum, bit, kentang atau jagung ditambahkan pada bahan bakar fosil pada tahun 2010 dan 20 persen pada 2020. Sekitar seperempat bahan bakar transportasi di Brazil tahun 2002 adalah etanol. Diramalkan, bahwa perut manusia akan bersaing dengan mesin-mesin mekanik memperebutkan makanan hasil pertanian. Masyarakat negara kaya akan mengutamakan biofuel dari pada mengekspor makanan hasil pertanian ke negara berkembang yang membutuhkan. Suatu ironi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

 

Pengajaran Tematik

Pembelajaran Holistik

Pembelajaran holistik merupakan pembelajaran menyeluruh yang melihat suatu fenomena alam atau sosial dari berbagai sudut pandang. pelaksanaan pembenalajarn ini mengintegrasikan semua mata pelajaran dalam satu kegiatan (proyek) dengan mengangkat tema aktual tertentu. Pembelajaran yang berpusat pada kepentingan siswa, kecakapan hidup (skill life), serta kenyamanan siswa. Lewat pembelajaran joyful learning anak akan belajar dalam suasana bermain. Semua materi pelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan perkembangan psikologis anak.Setiap topik pelajaran dibahas secara komprehensif dari berbagai dimensi sesuai taraf pikir anak. Studi ke tempat pengamatan cuaca (klimatologi), kemudian dibahas/didiskusikan dalam mata pelajaran matemateka, IPA, PKN, IPS akan mengantarkan siswa pada pemahaham iklim global maupun iklim mikro secara utuh.

Melalui pola belajar seperti itu, rasa ingin tahu anak akan terpupuk, motivasi belajar tumbuh dan secara bertahap anak akan menemukan sendiri definisi dan teori-teori sederhana sehingga mereka dapat berteriak eureka, seperti halnya Archimedes ketika menemukan teori yang hebat itu. Inilah penerapan konsep belajar construktivist untuk mengantarkan anak menjadi calon-calon penemu ulung.